Kilas Balik Sidang V PERKI Nederland. 28 t/m 30 November 2003.
“ Saudara bukan bangsa kelas kambing, tetapi saudara adalah bangsa terhormat, yang mempunyai harga diri yang tinggi dan mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diserahkan pada saudara. ”
B.M. Marpaung, 28 November 2003

Diluar Negeri

Sidang ke-5 PERKI di Negeri Belanda 28 s/d 30 November 2003, di Antwerpen, Belgia. Ini sedikit ada keanehan yang perlu penjelasan. PERKI itu berkedudukan di Belanda, tetapi mengapa Sidangnya diluar negeri? Antwerpen adalah sebuah kota-sedang yang tak jauh letaknya dari perbatasan Holland–Belgique, dan sudah masuk ke dalam wilayah Belgia. Hal begini dan perkara begini, lama-lama tak ada anehnya bagi orang yang mengerti seluk-beluk negeri Belanda dan para tetangganya. Tadinya sayapun bertanya—baru dalam hati saja—beberapa kali saya mengikuti kegiatan PERKI, banyak kali yang diadakan di negeri lain. Misalnya Hari Sumpah Pemuda yang dulu, diadakan PERKI di Berlin. Lalu persidangan yang tadinya dengan acara penggantian pengurus PERKI Se-Eropa, diadakan di Aachen. Dua kota ini ada di Jerman. Lalu Hari Sumpah Pemuda tahun ini didakan di Wiena, Austria. Lalu persidangan bulan November barusan, diadakan di Antwerpen di Belgia. Empat kali saya mengikuti persidangan dan pertemuan begini selalu diluar negeri. Apa perkaranya? Yang pokok, semua persidangan dan pertemuan event demikian, ongkos penyelanggaraannya jauh lebih murah daripada di Belanda sendiri! Tentu saja PERKI, kami akan mencari tempat dan perongkosan yang agak murah atau lebih murah, daripada di Belanda dengan harga mahal! Dan lagi sudah tentu ada faktor lain, misalnya masalah strategis tempat, karena PERKI sudah banyak di kota-kota Eropa lainnya.

Sekali ini kami bersidang buat penggantian pengurus lama ke pengurus baru buat Se-Nederland, buat seluruh Belanda. Acara pokok persidangan dengan tema "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang". Dengan sub-tema "Peningkatan pelayanan dan hubungan kekeluargaan menjadikan PERKI persekutuan misioner". Karena antara Antwerpen dengan kota-kota Belanda tidak begitu jauh—hanya dua sampai tiga jam dengan bis—bahkan ada yang hanya satu jam. Kami naik bis dari berbagai kota di Belanda. Seperti selalu saya tuliskan karena saya selalu bersama dengan banyak teman dalam bis itu, kali ini banyak wajah-wajah Maluku dan Batak. Ketika ke Wiena beberapa bulan lalu, wajah-wajah Manado dan Batak yang banyaknya. Suku Melayu, selalu hanya saya sendirian—kemana pun PERKI bersidang! Nggak apa! Dan saya samasekali tidak merasa asing dan terpencil—semua teman-teman saya.

Bau Dapur

Dalam tulisan kali ini saya akan lebih banyak cerita tentang hal-hal kecil, bukan perkara material—bahan-bahan persidangan. Yang mungkin perkara yang sangat susuasma; tetekbengek! Saya ingin membandingkan tiga kota yang semuanya diluar negeri. Ketika saya di Berlin dulu, lalu di Aachen, lalu di Wiena beberapa bulan yang lalu. Kami masih ingat, semua urusan dapur ada pada tuanrumah, dan kami tidak bisa campurtangan. Mungkin—sekali lagi mungkin—karena itu makanan dan masakannya sungguh tawar, selalu kurang garam. Tetapi begitu di Wiena, rasain! Terlalu asin! Dan makanan cara Eropa, sedangkan mayoritas kami tetap melayu! Jadi pada tidak begitu puas dalam soal makanan. Nah, kali ini dapur ada sama kekuasaan kita. Orang-orang kita yang masak—menyiapkan makanan—menentukan bahan makanan dan menentukan menu selama persidangan itu. Dapatlah dibayangkan kalau dapur dikuasai para melayu ini. Semua enak, semua sedap, dan selalu ada nasi, nasi dan nasi! Nggak perlu secara diam-diam nyelundup cari restoran Cina!

Dan saya sangat terharu dan mengagumi Tante Giok yang masakannya rasanya sama saja dengan masakan restoran kami di Paris! Sangat enak dan sangat cocok di lidah selera melayu kami! Coba, apa masakannya? Bergiliran setiap mau makan selalu berubah laukpauknya, ada gulai kambing, ada gado-gado, ada salad, ada sate, ada nasi goreng, ada goreng ayam Pak Linan atau ala Ayam Goreng Ibu Suharti. Gulai kambing dan satenya tidak kalah dengan sajian Pak Kumis yang di Jakarta! Dan nyami'annya ada krupuk, ada lemper, ada kolak biji delima, dan berjenis kue basah. Ini dibuat sendiri oleh dapur melayu dibawah pimpinan Tante Giok. Ada lagi beberapa menu makanan yang tidak saya tuliskan karena sudah lupa dan juga karena memang banyak jenisnya.

Sedikit kekurangannya yang diluar penguasaan kami para melayu ini. Antara ruangan dapur dengan ruangan sidang, menyatu, tanpa sekat penghalang dan pembatas. Dan ventilasinya ketika itu macet ada kerusakan. Jadi ketika kami asyik berdiskusi—berdebat, aroma dari dapur masuk ke ruang hidung kami. Maka terasa lapar ketika sedang asyik berdebat berdiskusi itu. Pikiran sudah bercabang! Dan lalu, karena udara dapur menyatu dengan udara ruang sidang, semua pakaian kami berbau masakan! Sampai di kamar—dan ketika mau tidur—di mana-mana pakaian kami selalu ada bau masakan, ada bau dapur!

Dalam batin saya, rasain, dulu mengeluh karena makanan tawar kurang garam, lalu keasinan seperti di Wiena baru-baru ini! Nah, kini baru pas—klopt dan sebagaimana manusia biasa yang suka mengeluh dan ada saja kekurangannya, beberapa teman saya, pada takut-takut. Takut kolesterol—takut gula—takut gemuk, takut semua yang enak! “Mas, mas”, kata saya. “Kalau sedang begini mau makan enak lagi, mbok jangan ingat kolesterol segala dong! Sampean rugi! Kalau mau dieet mah, di rumah aja, atuh! Kalau tetap takut, sampean makan nasi putih saja sama acar atau salad. Udah itu aja yang kurang kolesterolnya”, kata saya ada sedikit rasa dongkolnya. Ternyata setelah dia melihat saya makan yang ada dalam piring saya, dia ambil makanan yang paling banyak kolesterolnya—semur campur-babi fatnya! Nah, barangkali saya yang akan menanggung dosanya!

Sekali inilah yang sidang PERKI, kami orang-orang yang berkeluarga yang paling banyak membawa rombongan tanjidornya—anak dan para cucu. Mengapa? Karena kebetulan hari libur Jumat, Sabtu dan Minggu. Kalau para orangtuanya rapat bersidang sampai keluar negeri segala, lalu akan ditinggal di mana anak-anaknya? Bawa saja ke creche asrama penampungan di mana kami bersidang! Anak-anak bisa bermain antara mereka. Lagipula sekaligus dapat menanamkan pendidikan dan pelatihan buat mereka, bagaimana orangtuanya hidup dengan kegiatan agama, organisasi dan kepedulian lainnya. Maka ramailah dengan komunitas ke-PERKI-an antara kami.

Rasanya bersidang kali ini, seperti liburan campur keluarga. Cucu saya yang nomor Vierde—ini istilah dia sendiri—Berry, satu kamar dengan saya. Di kamar ada 7 orang. 3 orang dewasa, dan 4 anak-anak. Mamanya satu kamar dengan para ibu-ibu yang lain. Seperti liburan? Tidak persis! Sebab jadwal kami sangat ketat, tak sempat keluar jalan-jalan seperti kami di Wiena dulu itu, seperti di Aachen dan Berlin dulu itu. Kali ini jadwal persidangan [ketat, ed] karena masalahnya banyak dan cukup berat, kami tak punya masa istirahat panjang. Harus segera meneruskan persidangan agar pas waktunya. Dan ternyata karena memang masalahnya berat dan banyak, maka persidangan kami terpaksa akan diteruskan di lain waktu dan kesempatan.

Dengan perbandingan makanan yang saya ceritakan begitu enak dan begitu asyik dan banyak jenisnya, beragam dan kaya, hampir menyerupai kondangan dan perhelatan. Kata saya dalam batin, untung hanya dua tiga hari! Kalau ditambah lagi beberapa hari, alamat seperti pendapat teman sebelah saya itu, kita akan menumpuk kolesterol dan darahtinggi akan naik. Sebab disamping makan enak, tak sempat bergerak—olahraga, jalan. Waktunya sangat ketat, masalahnya banyak dan cukup berat. Tetapi ketahuilah—kata saya kepada diri sendiri—sidang dan pertemuan di Antwerpen ini adalah sidang dan pertemuan yang sangat alim, sopan, penuh semangat kekeluargaan bila saya bandingan dengan sidang di Aachen dulu, yang penuh dengan semangat saling bertahan dan sedikit saling menyerang. Dan saya kaget, kok di PERKI terjadi juga ya seperti di organisasi ketika saya di Jakarta dulu itu—dulu sekali! Kali ini sidang kami walaupun cukup banyak perbedaan pendapat, tetapi dibawakan dan digayakan dengan jinak dan sopan. Syukurlah.

Holland, 1 Desember 2003. Sobron Aidit.

Tua dan Muda

Antwerpen adalah sebuah kota ukuran sedang. Mungkin dia ini kota kedua sesudah Brussel. Tetapi Antwerpen adalah kota sangat istimewa. Kenapa? Karena Antwerpen adalah kota intan—Kota Intan Sedunia. Pemusatan grinda—pengasahan dan pengolahan intan dari seluruh dunia terpusat di kota ini. Tambang intan bertipe dunia dari berbagai pelosok benua di Afrika, banyak dikerjakan dan dimasak—dibagus-indahkan—di Antwerpen ini. Sejarah kota intan ini sudah ratusan tahun. Karena menyangkut per-intan-an, dan dagang jual-beli intan, maka banyak sekali pedagang intan "bermarkas" di kota ini. Tinggal berdiam beranak-pinak di Antwerpen. Karena itu tidak heran kita kalau banyak bertemu dengan orang-orang bertopi hitam dengan pakaian hitam, dan selalu banyak brewokan, lalu di atas kepalanya ada sebuah alas bagaikan kopiah yang sedang tidur. Merekalah orang-orang Yahudi pedagang jual-beli intan. Orang-orang kaya yang hubungannya dengan antara komunitas mereka, sampai di AS dan bagian dunia lainnya, termasuk mampu menguasai perekonomian AS.

Hubungan PERKI dengan KBRI dimanapun, saya lihat sangat baik. Cukup erat dan bersahabat. Bapak Dubes RI yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, datang ke Antwerpen hanya buat membuka Sidang PERKI kami. Bapak Muhamad Yusuf, baru saja bertemu dengan kami ketika Hari Lebaran baru-baru ini di Den Haag. Beliau datang dan membuka Sidang PERKI kami di Antwerpen. Sudah itu tak lama kemudian beliau kembali ke Den Haag, karena kesibukannya dalam pekerjaan. Kami sangat mengerti keadaan akan kesibukan pekerjaan beliau. Pak Dubes secara resmi memukul gong tanda pembukaan. Dan yang paling menarik perhatian saya, gong seperti itu hanya pernah saya lihat di istana Yogyakarta atau di perumahan pejabat tinggi pemerintahan di Indonesia.

Kami berdatangan dari berbagai kota di Belanda. Ada yang sudah saling mengenal, dan ada yang baru kali ini saja bertemunya. Bagi saya, komunitas gereja adalah komunitas pergaulan dan persahabatan yang bercorak keagamaan dan kerohanian. Saya sangat merasa bahagia dan sangat senang, karena komunitas saya itu cukup beragam. Ada yang riwayatnya dari satu sarang satu kandang yaitu berasal dari apa yang dinamakan dulunya sebagai orang kelayaban. Lalu ada yang sifatnya umum—komunitas campuran—dan bukan dari salah satu sarang dan kandang. Lalu komunitas PERKI yang banyak ragam sukubangsanya, dari suku Batak, Manado, Maluku, Timor, Flores, tetapi sangat kurang suku Jawanya, sebab suku Jawa kebanyakan beragama Islam. Rasanya betapa banyak sumber saya buat banyak belajar dan bergaul dengan berbagai ragam dan berbagai macam orang.

Kami berkumpul di Antwerpen ini sekitar 100 orang. Disamping banyak orang tuanya, dan setengah bayanya, ada juga anak muda PERKI yang cukup luas jangkauan pergaulannya. Anak muda ini dengan cekatan ikut bekerja buat kemajuan PERKI. Pimpinan Panitia Sidang ke-5 PERKI ini diketuai dan disekretarisi dua anak muda yang lincah militan. Daniel Lapian yang sangat ketat dan disiplin memegang waktu, sebagai ketuanya, dan seorang anak muda yang kecil-mungil tetapi sangat lincah, Naning Hadi dari Den Haag. Mereka ini dan sekitar pekerjaan panitia dan yang kerja tehnik bahkan juga kesenian dan malam gembira, saya kira peranan dua anak-muda ini sangat menonjol. Si Naning Hadi yang kecil-mungil itu kemampuan dan kebisaannya tak terduga! Saya sangat senang dan merasa ada kebanggaan karena pernah bercakap-cakap dan berdiskusi dengan Pendeta Jaspert Slob, seorang pekerja gereja dan juga pekerja ilmu-sosial dan sejarah yang sudah pernah puluhan tahun di berbagai wilayah Indonesia, seperti Tanah Minahasa. Pendeta Slob berbahasa Indonesia sangat baik, dan pekerja-keras yang tak puas-puasnya mereguk ilmu kemanusiaan antara suku-bangsa di tanah dan wilayah yang terkadang sangat terpencil. Tapi buat pekerjaan Tuhan, buat pelayanan bagi keluhuran dan keagungan Tuhan, benar-benar tak mengenal batas, dan juga (seharusnya) tak mengenal lelah-letih. Dan Pendeta Slot, saya lihat begitulah orangnya. Hari itu kami mendengarkan pendapat dan buah pikiran pendeta Slob mengenai makalahnya “Keberadaan PERKI Sebagai Persekutuan Baru”.

Holland, 1 Desember 2003. Sobron Aidit.

Sobron Aidit (Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934 – Paris, 10 Februari 2007) adalah penulis dan penyair yang besar pada zaman Orde Lama. Sebagai penulis, beliau menulis cerita-cerita pendek. Sobron Aidit bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Paris dan meninggal dalam usia 73 tahun. Wikipedia