Kependetaan
Dalam ibadahnya, PERKI menggunakan buku nyanyian Kidung Jemaat dan liturgi dibawakan pada umumnya secara bilingual.
Pelayanan Jemaat mencakup antara lain kebaktian minggu, kebaktian keluarga, kebaktian syukur dan khusus, pemahaman alkitab, kelompok doa, pelayanan sakramen perjamuan kudus, pelayanan baptisan, katekisasi dan sidi, pelayanan ibadah pernikahan dan kunjungan pastoral.
Setiap tahun, PERKI menyiapkan program pembinaan generasi muda.
Kebaktian pemuda, retreat bersama, vocal group, bakti sosial, pemahaman alkitab, katekisasi remaja, dan pembinaan guru sekolah minggu senantiasa memperoleh tempat penting dalam perencanaan agenda kerja PERKI di Negeri Belanda.
Pedoman ini antara lain mengatur hal-hal fundamental dan teknis dengan tujuan mengarahkan aktifitas dan birokrasi PERKI Setempat sehingga kepentingan jemaat dan keserasian pelayanan dapat dipenuhi secara efektif.
Pada perayaan Natal tanggal 25 Desember 1930, bersama-sama dengan sekitar 30 mahasiswa Indonesia yang saat itu sedang tinggal di Negeri Belanda, Raden Soedono Nimpoeno mendirikan Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia yang diberi nama Indonesische Christen Jongeren (ICJ).

ICJ bergerak aktif sebagai sarana berbagi kesulitan dan tantangan hidup antar sesama mahasiswa Indonesia. Rasa persaudaraan dan kebersamaan yang erat menjadi salah satu jembatan dalam menjaga semangat perjuangan bangsa dan cinta tanah air. ICJ juga menjadi alat pendukung pertumbuhan iman sebagai orang percaya dan memelihara identitas kristen.
Pada tahun 1938 ICJ mengambil wujud yang lebih berorientasi pada kaum pelajar dan cendekiawan Indonesia. Saat itu ditetapkan nama Perhimpunan Kristen Indonesia (PERKI) sebagai sebuah cerminan dari kesatuan pandangan dan kerinduan mahasiswa-mahasiswa kristen Indonesia untuk lebih mendalami Firman Tuhan.
Sangat disayangkan, perhimpunan ini mengalami kesulitan dalam menjangkau lapisan masyarakat Indonesia diluar lingkungan pendidikan.Untuk lebih mewadahi masyarakat Indonesia di Negeri Belanda secara menyeluruh, maka pada tahun 1939 didirikan de Christen Indonesische Vereniging/C.I.V. yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Perserikatan Kristen Indonesia (PERKI).
Pada tahun 1968 di Amsterdam, ditengah pertemuan antar mahasiswa kristen Indonesia se-Eropa, Perserikatan Kristen Indonesia secara resmi dirubah nama dan identitasnya menjadi Persekutuan Kristen Indonesia (PERKI). Persekutuan ini adalah inkarnasi terakhir dari visi dan cita-cita awal kaum mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda di tahun 30-an.
Dalam kurun waktu 75 tahun, PERKI telah bertumbuh menjadi komunitas kaya-kultur dan penuh rasa kebersamaan yang ditopang oleh iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus. Identitas sebagai komunitas Kristen yang berlatar belakang Indonesia menjadi roda pendorong kesinambungan persekutuan yang diperbaharui setiap hari. Masa depan PERKI adalah masa depan dimana hati yang ingin bersekutu dan melayani menjadi wujud dari pengharapan dan kasih abadi Tuhan Yesus Kristus.
PERKI di Negeri Belanda merupakan sebuah wadah kasih, kekeluargaan dan persekutuan jemaat Kristiani. Secara formal, PERKI memilih bentuk dan bersifat organisasi kemasyarakatan. Jati diri dan realitas dari PERKI adalah konvergensi dari nilai dan esensi transendental eskatologis; dimana fundamen dari iman dan pengharapan Kristiani dibangun bersama-sama dengan kasih dalam persekutuan dengan Tuhan Allah dan Jemaat-Nya.
Ketaatan dan kesetiaan kepada tugas pengutusan Amanat Agung sebagai penggenapan karya penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus diwujudkan secara tulus dalam persekutuan, pelayanan dan kesaksian anggota PERKI dalam kehidupan bermasyarakat di Negeri Belanda.
PERKI di Negeri Belanda senantiasa bertujuan menghimpun dan memelihara sesama manusia yang berlatar belakang Indonesia khususnya yang beragama Kristen, agar peran sertanya dalam kehidupan bermasyarakat, baik di Negeri Belanda maupun di tempat lain, senantiasa berkembang, berkualitas tinggi, dipenuhi dengan damai dan kasih, dan penuh pengamalan Pancasila.
Prakarsa dan partisipasi PERKI di Negeri Belanda dalam penjemaatan organisasi antara lain meliputi pemberitaan penyertaan, penyelamatan dan berkat Tuhan Allah, pembinaan pertumbuhan generasi muda, pemeliharaan hubungan kerjasama antara PERKI Kota/Cabang dan antar organisasi eksternal.
PERKI di Negeri Belanda turut berperan serta dalam bentuk kerjasama dengan gereja-gereja Belanda setempat, Protestantse Kerk in Nederland (PKN), Samen Kerk in Nederland (SKIN), Kerk in Actie, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), serta komunitas dan organisasi kemasyarakatan berlatarbelakang Indonesia lainnya.
PERKI di Negeri Belanda adalah induk dari regio/sub-organisasi yang disebut sebagai PERKI Setempat (atau PERKI Kota) dan PERKI Cabang. Saat ini terdapat enam PERKI Setempat dan dua PERKI Cabang—dibawah naungan PERKI Den Haag/Delft. Pada umumnya, jemaat PERKI terdaftar sebagai anggota di kota dimana terdapat PERKI Setempat, atau dikota terdekat lainnya.
Sesuai tradisi PERKI, pada hari perayaan kristen seperti Paskah dan Natal, seluruh jemaat berkumpul bersama dalam kebaktian umum yang diadakan di salah satu PERKI Setempat. Dalam acara seperti ini, tercermin semaraknya identitas anggota PERKI di Negeri Belanda yang dikelilingi oleh suasana kekeluargaan dan kebersamaan.
PERKI di Negeri Belanda saat ini berada di pertengahan generasi ketiga dan generasi keempat. Kombinasi dari anggota senior yang lahir besar di Indonesia dan anggota muda yang lahir dan bertumbuh besar di Negeri Belanda membawa warna tersendiri yang mencerminkan pertumbuhan PERKI. Di satu pihak terdapat masyarakat yang mengenal Indonesia dengan baik dan di lain pihak terdapat generasi yang berbahasa ibu bahasa Belanda. Generasi ini mungkin sekilas dianggap hanya mencerminkan Indonesia dari darah daging semata, namun sesungguhnya memiliki potensi yang besar untuk memberikan kontribusi berharga sebagai orang Kristen baik bagi Indonesia maupun dalam kehidupan bermasyarakat di Negeri Belanda.
Interaksi dan hubungan kedua budaya ini menyajikan suasana yang unik dalam lingkungan PERKI. Integrasi multikultural—ciri khas populasi Eropa hari ini—dalam aktifitas gerejawi dan organisasi membuahkan hasilnya dalam bentuk pertumbuhan jemaat dimana anggota PERKI saling belajar dan saling mengenal budaya satu sama lain.
Anggota PERKI adalah komunitas yang saling melayani, saling mengenal dan terutama bersama-sama mengabarkan Injil dan Keselamatan kedalam dunia. Komunitas ini adalah sebuah persekutuan yang rendah hati dan penuh kesederhanaan, namun dipenuhi oleh pengabdian dan kesetiaan kepada Kristus dan Gereja-Nya.
Badan Pengurus PERKI di Negeri Belanda (BPPNB) dipilih dan diteguhkan dalam sidang nasional yang diadakan empat tahun sekali. Duduk didalamnya adalah anggota PERKI di Negeri Belanda yang telah lebih dari satu tahun terdaftar di PERKI Setempat. Kepengurusan ini bertanggungjawab antara lain dalam menimbang dan mengambil keputusan tingkat nasional yang mempengaruhi kesinambungan dan efektifitas kegiatan dan pelayanan PERKI.
Kegiatan dan pelayanan ini antara lain mencakup administrasi kependetaan, ibadah dan sakramen, katekisasi, penatalayanan dan kerjasama oikumenis. Selain itu Badan Pengurus PERKI di Negeri Belanda juga mengupayakan kaderisasi dan pembinaan terpadu bagi generasi muda serta pengadaan informasi dan publikasi ke lingkungan luar.
Dalam tugasnya, BPPNB dibantu oleh beberapa komisi dan yayasan. Setiap komisi dan yayasan ini memiliki misi yang spesifik, misalnya generasi muda, masa depan, diakonia/pastoral dan pengupayaan dana. Selain itu juga terdapat tim khusus yang memberikan asistensi dalam bidang administrasi pembukuan. Tim ini dikenal dengan nama Badan Verifikasi.
Selain Badan Pengurus nasional, setiap PERKI Setempat dan PERKI Cabang juga memiliki Badan Pengurus (BPPS) dengan struktur inti yang kurang lebih sama dengan BPPNB namun berskala lokal. Kepengurusan ini berhubungan langsung dengan jemaat PERKI dan bertanggungjawab terutama dalam kelangsungan kegiatan rutin seperti Kebaktian Minggu dan pelayanan jemaat seperti diakonia dan pastoral.
Susunan Badan Pengurus inti PERKI di Negeri Belanda saat ini adalah:
| Ketua Umum | B.M. Marpaung |
| Ketua I | Otis Latumerissa |
| Ketua II | Jan Scholten |
| Sekretaris | Ria Cohen-Rumagit |
| Bendahara | |
| Anggota | |
| Penasehat | |
| Ex-Officio | Pdt Ida A.R. Pattinama Pdt Marla Winckler-Huliselan |
| Generasi Muda | |
| Humas | |
| Masa Depan | Ben vd Hoogen |
| Verifikasi | Michael Putrawenas |